Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Belajar Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Photography. Tampilkan semua postingan

6/06/2008

Megapiksel atau Perbesaran Optik?


Oleh: Valens Riyadi

Perkembangan kamera digital memang sangat pesat. Dalam tujuh tahun terakhir, 22 produsen kamera digital terkemuka telah meluncurkan tidak kurang dari 650 jenis kamera.

Mulai dari kamera untuk pemula yang sangat miskin fasilitas, namun mudah penggunaannya, hingga kamera bagi fotografer profesional. Munculnya kamera digital mulai marak dalam tiga tahun belakangan. Hal itu ditandai dengan merosotnya angka penjualan film seluloid hampir di seluruh belahan dunia.

Sebagian besar jenis kamera digital yang diluncurkan diperuntukkan bagi kalangan pemula. Hampir semua produsen berlomba menghasilkan kamera yang canggih, mungil, dan berusaha menarik pembeli dengan spesifikasi teknik yang terlihat mewah.

Beberapa tahun lalu, fasilitas yang ditawarkan adalah nilai kemampuan perbesaran (zoom). Biasanya yang diiklankan adalah nilai perbesaran yang merupakan akumulatif antara perbesaran digital dan perbesaran optik.

Perbesaran optik adalah perbesaran gambar yang direkam kamera melalui lensa. Seluruh perbesaran ini sepenuhnya terjadi secara fisik. Adapun perbesaran digital sebenarnya hanya proses pemotongan sisi-sisi gambar (hanya diambil bagian tengahnya saja) dan kemudian dilakukan perbesaran menggunakan software sesuai dengan algoritma komputer tertentu.

Gambar yang dihasilkan tidak setajam perbesaran secara optik. Belakangan, para produsen tidak banyak lagi mengiklankan kemampuan kameranya untuk melakukan perbesaran digital karena memang tidak terlalu berguna. Perbesaran gambar menggunakan perangkat lunak seperti Photoshop akan menghasilkan gambar yang lebih baik daripada perbesaran digital di kamera.

Tingkat perbesaran

Selain ditentukan oleh tingkat perbesarannya, ukuran gambar yang dihasilkan juga ditentukan oleh jumlah titik yang dapat terekam kamera. Ukuran gambar biasanya ditampilkan dalam satuan megapiksel, yang setara dengan satu juta titik gambar. Kamera yang dapat menangkap gambar dengan ukuran 3.000 kali 2.000 piksel disebut memiliki kemampuan 6 megapiksel (enam juta titik).

Makin besar megapikselnya, makin besar pula hasil yang dapat dicetak di kertas foto tanpa perlu terlihat pecah. Dengan pencetakan yang menggunakan ketajaman 250 dpi (dot per inch), gambar berukuran enam megapiksel dapat dicetak dengan optimal pada kertas berukuran 30 cm x 20 cm.

Kamera prosumer yang berada di pasaran saat ini sebetulnya sudah sangat maju jika kita hanya memerhatikan satuan pembesaran optik dan kemampuan megapikselnya. Sebagai contoh, kamera Kodak P850 yang dirilis awal Agustus lalu dapat menghasilkan gambar lima megapiksel dan memiliki perbesaran optik 12 kali atau setara dengan 432 mm pada kamera SLR (single lens reflex).

Masyarakat yang ingin membeli kamera digital biasanya sudah cukup puas dengan membandingkan tingkat perbesaran optik dan megapikselnya. Namun, kualitas kamera tidak bisa hanya ditentukan dari kedua besaran tadi. Masih banyak parameter lain yang perlu dipertimbangkan.

Tingkat ketajaman lensa tiap merek kamera berbeda-beda. Untuk hal yang satu ini, kualitas lensa-lensa yang bisa dilepas (interchangeable lens) jelas-jelas tidak tersaingi oleh kualitas lensa-lensa bawaan kamera-kamera prosumer.

Namun, untuk kamera prosumer, ada baiknya dipilih kamera yang menggunakan lensa buatan produsen lensa terkemuka, seperti Leica, Carl Zeiss, Nikon, ataupun Canon.

Kamera prosumer

Sebagian besar pengguna kamera prosumer banyak mengandalkan pengaturan pencahayaan otomatis. Bidik dan langsung jepret. Tidak perlu pusing-pusing memikirkan berapa kecepatan rana, asa, dan besaran diafragma yang dibutuhkan.

Kemampuan kamera untuk melakukan kalkulasi pengukuran pencahayaan menjadi hal yang cukup penting. Bisa saja gambar yang dihasilkan tajam namun gelap.

Selain itu, salah satu faktor yang paling penting adalah kualitas sensor pada kamera. Kamera prosumer dengan harga murah biasanya memiliki sensor yang kecil dan jumlah titik yang tidak sama banyak dengan yang diiklankan.

Bisa jadi, sebuah kamera saku yang disebut mampu memotret dengan lima megapiksel sebetulnya hanya mampu memotret dengan tiga atau empat megapiksel. Setelah gambar ditangkap sensor, tetap dilakukan perbesaran digital (interpolasi) sehingga gambar jadi berukuran lima megapiksel.

Makin panjang kemampuan perbesaran optik, makin membuat kita asyik memotret. Obyek yang letaknya jauh bisa kita bidik dengan komposisi yang cukup besar dan dekat. Namun, sering kali pengguna tidak sadar bahwa kemungkinan terjadi goyangan (shake) semakin besar.

Selain itu, biasanya kamera prosumer yang memiliki lensa panjang (lebih dari lima kali perbesaran) tidak disertai dengan bukaan lensa (diafragma) yang lebar. Hal itu mengakibatkan kecepatan bukaan rana semakin lambat. Kemungkinan goyang akan semakin besar. Karena itu, sebagian kamera prosumer, seperti Panasonic Lumix FZ20 dan Ricoh Caplio R3, memberikan juga fitur peredam goyangan.

Bagaimanapun, kalau kita ingin mendapatkan foto yang berkualitas, kamera-kamera kelas DSLR (Digital SLR) adalah pilihan yang perlu dipertimbangkan. Perusahaan besar seperti Canon dan Nikon telah mengeluarkan seri-seri kamera DSLR yang harganya (termasuk lensa standar) berkisar Rp 7-8 juta. Sebut saja Canon 350D dan Nikon D50.

Menguasai teknik

Takut karena merasa tidak menguasai teknik memotret? Jangan takut, kamera-kamera DSLR terbaru pun sebetulnya bisa disetel untuk digunakan dalam mode yang sepenuhnya otomatis. Tinggal membidikkan kamera dan menjepret, persis seperti kamera saku.

Hasilnya akan dapat langsung kita lihat pada layar LCD. Dalam kondisi normal, dijamin hasilnya akan tajam dan jelas. Kalaupun terdapat kesalahan pada jepretan pertama, tidak perlu khawatir. Jepret lagi. Tidak ada uang yang terbuang seperti halnya memotret dengan kamera berfilm. Selamat datang di dunia kamera digital!

Valens Riyadi, Administrator Fotografer.Net E-mail: valens@fotografer.net



Read More..

Megapiksel atau Perbesaran Optik?


Oleh: Valens Riyadi

Perkembangan kamera digital memang sangat pesat. Dalam tujuh tahun terakhir, 22 produsen kamera digital terkemuka telah meluncurkan tidak kurang dari 650 jenis kamera.

Mulai dari kamera untuk pemula yang sangat miskin fasilitas, namun mudah penggunaannya, hingga kamera bagi fotografer profesional. Munculnya kamera digital mulai marak dalam tiga tahun belakangan. Hal itu ditandai dengan merosotnya angka penjualan film seluloid hampir di seluruh belahan dunia.

Sebagian besar jenis kamera digital yang diluncurkan diperuntukkan bagi kalangan pemula. Hampir semua produsen berlomba menghasilkan kamera yang canggih, mungil, dan berusaha menarik pembeli dengan spesifikasi teknik yang terlihat mewah.

Beberapa tahun lalu, fasilitas yang ditawarkan adalah nilai kemampuan perbesaran (zoom). Biasanya yang diiklankan adalah nilai perbesaran yang merupakan akumulatif antara perbesaran digital dan perbesaran optik.

Perbesaran optik adalah perbesaran gambar yang direkam kamera melalui lensa. Seluruh perbesaran ini sepenuhnya terjadi secara fisik. Adapun perbesaran digital sebenarnya hanya proses pemotongan sisi-sisi gambar (hanya diambil bagian tengahnya saja) dan kemudian dilakukan perbesaran menggunakan software sesuai dengan algoritma komputer tertentu.

Gambar yang dihasilkan tidak setajam perbesaran secara optik. Belakangan, para produsen tidak banyak lagi mengiklankan kemampuan kameranya untuk melakukan perbesaran digital karena memang tidak terlalu berguna. Perbesaran gambar menggunakan perangkat lunak seperti Photoshop akan menghasilkan gambar yang lebih baik daripada perbesaran digital di kamera.

Tingkat perbesaran

Selain ditentukan oleh tingkat perbesarannya, ukuran gambar yang dihasilkan juga ditentukan oleh jumlah titik yang dapat terekam kamera. Ukuran gambar biasanya ditampilkan dalam satuan megapiksel, yang setara dengan satu juta titik gambar. Kamera yang dapat menangkap gambar dengan ukuran 3.000 kali 2.000 piksel disebut memiliki kemampuan 6 megapiksel (enam juta titik).

Makin besar megapikselnya, makin besar pula hasil yang dapat dicetak di kertas foto tanpa perlu terlihat pecah. Dengan pencetakan yang menggunakan ketajaman 250 dpi (dot per inch), gambar berukuran enam megapiksel dapat dicetak dengan optimal pada kertas berukuran 30 cm x 20 cm.

Kamera prosumer yang berada di pasaran saat ini sebetulnya sudah sangat maju jika kita hanya memerhatikan satuan pembesaran optik dan kemampuan megapikselnya. Sebagai contoh, kamera Kodak P850 yang dirilis awal Agustus lalu dapat menghasilkan gambar lima megapiksel dan memiliki perbesaran optik 12 kali atau setara dengan 432 mm pada kamera SLR (single lens reflex).

Masyarakat yang ingin membeli kamera digital biasanya sudah cukup puas dengan membandingkan tingkat perbesaran optik dan megapikselnya. Namun, kualitas kamera tidak bisa hanya ditentukan dari kedua besaran tadi. Masih banyak parameter lain yang perlu dipertimbangkan.

Tingkat ketajaman lensa tiap merek kamera berbeda-beda. Untuk hal yang satu ini, kualitas lensa-lensa yang bisa dilepas (interchangeable lens) jelas-jelas tidak tersaingi oleh kualitas lensa-lensa bawaan kamera-kamera prosumer.

Namun, untuk kamera prosumer, ada baiknya dipilih kamera yang menggunakan lensa buatan produsen lensa terkemuka, seperti Leica, Carl Zeiss, Nikon, ataupun Canon.

Kamera prosumer

Sebagian besar pengguna kamera prosumer banyak mengandalkan pengaturan pencahayaan otomatis. Bidik dan langsung jepret. Tidak perlu pusing-pusing memikirkan berapa kecepatan rana, asa, dan besaran diafragma yang dibutuhkan.

Kemampuan kamera untuk melakukan kalkulasi pengukuran pencahayaan menjadi hal yang cukup penting. Bisa saja gambar yang dihasilkan tajam namun gelap.

Selain itu, salah satu faktor yang paling penting adalah kualitas sensor pada kamera. Kamera prosumer dengan harga murah biasanya memiliki sensor yang kecil dan jumlah titik yang tidak sama banyak dengan yang diiklankan.

Bisa jadi, sebuah kamera saku yang disebut mampu memotret dengan lima megapiksel sebetulnya hanya mampu memotret dengan tiga atau empat megapiksel. Setelah gambar ditangkap sensor, tetap dilakukan perbesaran digital (interpolasi) sehingga gambar jadi berukuran lima megapiksel.

Makin panjang kemampuan perbesaran optik, makin membuat kita asyik memotret. Obyek yang letaknya jauh bisa kita bidik dengan komposisi yang cukup besar dan dekat. Namun, sering kali pengguna tidak sadar bahwa kemungkinan terjadi goyangan (shake) semakin besar.

Selain itu, biasanya kamera prosumer yang memiliki lensa panjang (lebih dari lima kali perbesaran) tidak disertai dengan bukaan lensa (diafragma) yang lebar. Hal itu mengakibatkan kecepatan bukaan rana semakin lambat. Kemungkinan goyang akan semakin besar. Karena itu, sebagian kamera prosumer, seperti Panasonic Lumix FZ20 dan Ricoh Caplio R3, memberikan juga fitur peredam goyangan.

Bagaimanapun, kalau kita ingin mendapatkan foto yang berkualitas, kamera-kamera kelas DSLR (Digital SLR) adalah pilihan yang perlu dipertimbangkan. Perusahaan besar seperti Canon dan Nikon telah mengeluarkan seri-seri kamera DSLR yang harganya (termasuk lensa standar) berkisar Rp 7-8 juta. Sebut saja Canon 350D dan Nikon D50.

Menguasai teknik

Takut karena merasa tidak menguasai teknik memotret? Jangan takut, kamera-kamera DSLR terbaru pun sebetulnya bisa disetel untuk digunakan dalam mode yang sepenuhnya otomatis. Tinggal membidikkan kamera dan menjepret, persis seperti kamera saku.

Hasilnya akan dapat langsung kita lihat pada layar LCD. Dalam kondisi normal, dijamin hasilnya akan tajam dan jelas. Kalaupun terdapat kesalahan pada jepretan pertama, tidak perlu khawatir. Jepret lagi. Tidak ada uang yang terbuang seperti halnya memotret dengan kamera berfilm. Selamat datang di dunia kamera digital!

Valens Riyadi, Administrator Fotografer.Net E-mail: valens@fotografer.net



Read More..

6/04/2008

Teknik Dasar Fotografi


Apa itu Fotografi ?
Fotografi adalah seni atau suatu proses penghasilan gambar dan cahaya yang dipantulkan oleh objek masuk ke lensa kemudian diteruskan ke bidang film, sehingga menghasilkan gambar.
Mengenal Kamera dan bagian-bagiannya
Kamera
Ada beberapa jenis kamera seperti:
1.View finder kamera
2.View kamera
3.Twin lens camera (Box)
4.S.L / Single Lens Refflex
5.Instamatic camera
6.Palaraid kamera
7.Kamera digital
Bagian-bagian kamera
Lensa
Menurut macamnya dikenal lensa normal sudut lebar, lensa dan lensa tele. Lensa normal adalah lensa yang sudut pandangnya serupa mata kita. Jarak antara lensa dengan film normal (50 mm). Sudut lebar adalah lensa yang panjang fokalnya lebih kecil dari normal. Dan lensa tele adalah lensa yang panjang fokalnya lebih besar dari normal.
Gabungan dari ke tiga lensa disebut lensa zoom (zoom lens).
Selain itu masih ada lensa tambahan seperti lensa makro, lensa C.U dan lain-lain
Diafragma
Diafragma adalah sejumlah lempengan-lempengan baja yang dapat diatur, sehingga lubang menjadi besar atau kecil. Bilangan diafragma disebut stop biasanya disingkat F.
contohnya : F4 ,F5, F8 dan seterusnya.
Diafragma bisa diatur dengan merubah angka skala diafragmanya yang terdapat pada gelang yang melingkar pada lensa dengan angka-angka 1,4. 2,8 . 4,5 . 6,8. 1,1. 16.
Kecepatan /rana /shutter speed
Rana adalah sejenis tirai yang dapat dibuka selama waktu tertentu, misalnya 1/60 detik
Fungsi rana atau kecepatan adalah sebagai alat pembuka dan penutup masuknya cahaya kebidang film serta untuk melindungi film dari cahaya.
Rana pada kamera ada dua macam menurut gerakannya: Rana pusat dan Rana celah.
Biasanya angka kecepatan pada kamera tertulis T.B, 1.2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500, 700, 1000, dan sebagainya. Angka-angka 1.2, 4, 8,15 menunjukkan lamanya waktu membuka kecepatan 1 detik, 1/4 detik, 1/8 detik, 1/15 detik dan seterusnya.
T: time, bila tombol kecepatan ditekan akan membuka dan kalau ditekan lagi akan menutup.
B: Blub, bila tombol kecepatan ditekan akan membuka dan jika dilepas akan menutup.
T dan B : dipergunakan untuk pencahayaan lebih dari 1 detik.
Fokus (Pengatur Jarak)
Fokus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu.
Untuk menajamkan gambar pada bidang film kita perlu mengatur jarak atau focus pada kamera dengan cara memutarnya lalu melihatnya pada jendela bidik.
Untuk memfocuskan gambar pada kamera ada beberapa macam: kaca buram, gambar geser, gambar rangka, micro prisma.
Skala tajam (ruang tajam)
Ada tiga faktor yang menentukan ruang tajam yaitu:
Lensa, masing-masing lensa menghasilkan ruang tajam yang berbeda.
Jarak pemotretan, makin jauh objek yang kita fokuskan, makin luas ruang tajamnya.
Diafragma, makin kecil lubang diafragma, makin luas ruang tajamnya. Makin besar lubang diafragma, ruang tajamnya semakin sempit.
Film
Film yang dijual dipasaran ada dua macam yaitu: film negatif dan film positif.
Film negatif terbagi dua: film negatif B/W dan negatif color dan film positif pun terbagi dua B/W dan color.
Masing-masing pabrik mengeluarkan standar kepekaan film umpamanya ASA Amerika , JIS jepang dan DIN Jerman.
Film yang ber ASA tinggi berbutir kasar dan film yag ber ASA rendah berbutir halus.
Hal-hal yang penting diperhatikan waktu membeli film baik film negatif atau positif yaitu pada masa kadaluarsa film, bahan prosessing, tempat menjual film kena terik matahari atau terlindung.
Setting Kamera Untuk Melakukan Pemotretan
Siapkan Kamera yang akan dipergunakan
Bersihkan body kamera dari debu menggunakan brower atau kain planel.
Bersihkan lensa kamera dengan lens cleaner (pembersih lensa).
Pasang lensa ke body kamera. Perhatikan titik yang ada di lensa dan yang
dibody kamera harus saling ketemu kemudian putarlah lensa berlawanan arah jarum jam sampai tertedangar bunyi klik.
Pasang batu baterei kamera.
Pasang pegangan lensa seperti filter dan sun cup
Mengisi film
Cabutlah engkol kombinasi penggulung film ke atas sampai punggung kamera terbuka secara otomatis.
Masukkan film ke dalam kamera jepit film dengan baik dan forforator film harus masuk di gigi pembawa film.
Film yang mengandung emulsi menghadap ke lensa kamera.
Kemudian tutup punggung kamera dan tekan sampai terdengar klik.
Untuk mengetes apakah film sudah terpasang baik atau tidak, kokanglah kamera apa bila engkol penggulung film berputar ke arah yang berlawanan dengan arah panah penggulung film, berarti film sudah terpasang dengan benar.
Menyetel kecepatan ASA film dan kecepatan rana
Pastikan ASA yang digunakan dan sesuaikan kecepatan rana dengan kemampuan anda.
Hindari menggunakan kecepatan rendah, karena gambar akan kabur bila anda memotretnya kurang mampu, gunakan kaki tiga bila anda terpaksa menggunakan kecepatan rendah.
Peganglah kamera dengan tangan kiri,
posisi kaki kuda-kuda dan mata mengintip di jendela pengamat.
Memfokuskan lensa,
Intiplah kedalam lubang pengamat dan arahkan kamera, sehingga objek utama tampak ditengah
lingkaran kecil poros mikroprisma.
Cara memfokus gambar patah (split image),
Putarlah gelang fokus sampai bagian atas dan bawah dari split image dalam lingkaran poros mikroprisma bertemu membentuk objek yang utuh.
Cara fokus mikroprisma
Putarlah gelang fokus sampai objek dalam lingkaran poros mikroprisma
tampak terang.
Kalau anda kesulitan dengan cara diatas waktu memfokuskan, gunakannlah seluruh bidang kaca sekeliling lingkaran poros mikroprisma, cara ini biasa digunakan pada pemotretan malam hari.
Atur komposisi sesuai dengan storyboard (rancangan gambar).
LS: long shoot, FS: fokus shoot, MS: medium shoot, CU:clouse up

Membuat tulisan dengan latar belakang pemandangan
Dengan cara mounting
Tulisan langsung dibuat diatas kertas foto atau gambar lain sesuai selera anda.
Membuat tulisan diatas plastik transparan lalu ditumpuk dengan gambar yang anda inginkan.
Lakukanlah pemotretan menggunakan lensa CU atau Macro lens.
Multi Expose
Membuat tulisan dulu diatas kertas hitam pekat usahakan tulisan warnanya kontras.
Lakukan pengambilan gambar tulisan tadi dengan diafragma kamera naik 2 stop dari posisi pencahayaan normal.
Tekan tombol perewin film untuk kamera yang tidak dilengkapi dengan multi expose. Kemudian kamera dikokang kembali.
Lakukan pengambilan gambar diluar sesuai dengan selera anda dengan pencahayaan naik ½ stop dari pencahayaan normal.
Super Infus
Membuat tulisan dahulu diatas kertas putih tulisan hitam.
Potret tulisan tersebut menggunakan film artho/high contras for slide title dan proses film tersebut. Maka akan diperoleh tulisa negatif hitam putih, kemudian klise negatif tersebut di kontek ke film artho dan proses maka akan diperoleh klise positif hitam putih.
Siapkan slide color yang akan dijadikan background.
Sekarang tumpuklah ketiga film tersebut dengan urutan sebagai berikut:
1.Film negatif high contras /ortho
2.Film positif high contras / ortho
3.Film slide color untuk backgroundnya
Lakukan pemotretan film no.2 dan no.3 di atas kotak lampu dan lampunya dalam posisi menyala.
Tekan multi expose kamera kemudian kamera dikokang kembali.
Cabut film no.2 dan no.3 dan lakukan pemotretan ke film no.1.
Kalau ingin tulisannya berwarna pasanglah filter warna di depan lensa kamera anda.
Prinsip-prinsip Komposisi Fotografi
Komposisi adalah cara mengatur/menyusun bagian-bagian dari gambar (misalnya garis-garis, bentuk, ruang bebas, bayangan, warna, tekstur, dan lain-lain) agar gambar lebih menarik dan mudah dimengerti. Beberapa prinsip biasa digunakan untuk meningkatkan efektifitas gambar. “Perlihatkan apa yang ingin Anda perlihatkan”, merupakan salah satu prinsip yang baik.
1.Subjek
Tampilkan suatu subjek utama dalam sebuah gambar. Kesampingkan bagian-bagian lain dan pisahkan hal-hal yang tidak perlu ada dalam foto.

2.Penempatan subjek utama
a.Bayangkanlah Anda sedang membagi gambar dengan garis bayangan mendatar dan tegak lurus menjadi 3 bagian yang sama besar. Titik temu dari garis-garis tersebut adalah tempat dimana Anda dapat meletakan subjek utama dan elemen-elemen pelengkap.
b.Jika menggunakan garis mendatar sebagai subjek utama, misalnya garis batas (cakrawala) antara udara dan lahan pertanian, aturlah agar bagian yang satu lebih besar dari bagian lainnya.

c.Posisi subjek tidak harus selalu berada di tengah-tengah agar komposisi nampak lebih menarik. Dan hindari penempatan subjek pada posisi yang gelap.

3.Titik pandang
Pilihlah posisi kamera yang paling tepat saat mengambil gambar, sehingga hal-hal yang ingin Anda perlihatkan menjadi lebih jelas.
6.Sediakan lebih banyak ruang untuk garis pandang dan garis gerak.
Beri ruang di depan subjek untuk mengesankan subjek Anda sedang bergerak atau melihat sesuatu.
7.Batas antar bagian gambar sebaiknya digunakan untuk mempertegas hal apa yang ingin Anda komunikasikan.
Namun, perhatikan dengan seksama agar objek yang ditonjolkan tersebut tidak membingungkan atau merusak komposisi.
8.Cahaya dan bayangan.
Gunakan pencahayaan yang menyebar agar gambar nampak jelas dan usahakan agar subjek anda menghadap sumber cahaya.
9.Lakukan pengambilan gambar secara bervariasi agar gambar lebih menarik.
Gunakan jarak yang berbeda antara kamera dan subjek dalam setiap pengambilan. Berapa jarak subjek yang sebaiknya tampak dalam gambar ?

Read More..

Membuat Panning




Berikut langkah-langkahnya:
1. Set di Time priority
2. Setting timenya 1/15 detik
3. ISO 100
4. AI SERVO
5. Sambil foto ikuti gerakan, klik shutter, masih mengikuti gerakan

Read More..

Memotret Bulan




Bulan merupakan benda angkasa terdekat terhadap Bumi. Nyaris setiap malam kita bisa menyaksikan benda ini, dan boleh jadi pernah berusaha mengabadikannya. Kendati demikian memotret Bulan tidaklah semudah melihat. Berikut ini panduan memotret Bulan dengan menitik-beratkan pada porsi cahaya dan kecepatan.

Dalam fotografi, porsi cahaya baku berpatokan pada kecerahan sinar Matahari. Patokan klasik biasa dinamakan "Sunny 16 rule". Patokan mainnya (rule of thumb) kira-kira berbunyi, gunakan kecepatan 1/ASA-film (detik) pada lebar diafragma 1/16 pada siang bolong. Biasanya aturan ini disertakan dalam kemasan film.

Misalkan kita memakai film sepeka ASA 100 maka semestinya kita mematok kecepatan 1/100 detik (dalam praktik biasanya 1/125 detik) pada lebar diafragma 1/16. Apabila kita membuka diafragma 1/8 (dua kali selebar 1/16) maka kecepatan meningkat dua kali pula untuk mendapatkan pencahayaan yang tepat (1/500 detik). Apabila kita memakai film ASA 400 maka kecepatan acuan rana 1/400 detik (1/500 detik dalam praktek) pada lebar diafragma 1/16 untuk mendapat porsi cahaya yang wajar.

Bulan merupakan satelit Bumi yang berjarak nyaris sama terhadap Matahari. Oleh karena itu logika "Sunny 16 rule" berlaku juga di sini dengan sedikit aturan tambahan.

Aturan tambahan timbul karena Bulan berlatarbelakang angkasa yang hitam sehingga 'menipu' sensor cahaya lensa. Pada lensa-lensa di bawah panjang titik-api 500 mm, cahaya dari permukaan Bulan sulit terukur akurat melalui sensor cahaya kamera (light meter). Biasanya fotografer memperbanyak porsi cahaya 100 persen agar pencahayaannya tepat. Jadi aturan mainnya kira-kira menjadi : kita semestinya memakai 1/ASA-film (detik) pada bukaan diafragma 1/11 ketika memotret Bulan.

Misalkan kita memakai film sepeka ASA 100 maka semestinya kita mematok kecepatan rana 1/125 pada diafragma 1/11. Apabila kita membuka diafragma 1/16 (separuh 1/11) maka kecepatan merosot 100 persen menjadi (1/60 detik). Apabila kita memakai film ASA 400 maka kecepatan acuan rana 1/400 detik (1/500 detik dalam praktek) pada lebar diafragma 1/11.

Aturan tersebut berlaku ketika Bulan purnama. Semakin kecil luas permukaan Bulan yang terlihat maka kita perlu menambah porsi cahaya yang masuk ke film. Patokan umum adalah peningkatan 100 persen cahaya sesuai perbani Bulan.

Pada fasa bulan-baru, porsi cahaya kira-kira memerlukan tambahan 4 - 5 kali sebanyak bulan purnama. Apabila kita memotret bulan sabit dengan kepekaan setara film ASA 400, maka kecepatan acuan rana kira-kira menjadi 1/500 detik pada lebar diafragma 1/4 atau bisa juga kecepatan 1/60 – 1/30 detik dengan lebar diafragma 1/11.

Apabila kita memotret bulan sabit dengan kepekaan setara film ASA 100, maka kecepatan acuan rana kira-kira menjadi 1/100 detik dengan lebar diafragma 1/4 atau bisa juga kecepatan 1/15 detik dengan lebar diafragma 1/11.

Hitungan ini hanyalah acuan di lapangan terutama ketika memakai lensa-lensa lebar (lebih lebar daripada 35 mm). Dalam praktik lebih sering porsi cahaya harus diperbesar ketika situasi berawan, sarat polusi cahaya, atau posisi Bulan berada dekat cakrawala. Pengukur cahaya dalam kamera baru memadai hanya ketika pemotretan menggunakan lensa cukup panjang (terutama lebih panjang daripada 200 mm).

Cahaya bukan satu-satunya problem dalam pemotretan bulan. Kecepatan rana yang terlalu lambat terhadap gerak Bulan (relatif terhadap lensa) akan mengaburkan citra Bulan. Faktor penentu untuk mengatasi persoalan ini terletak pada panjang titik-api lensa.

Bulan bergeser 1/2 derajat-busur setelah dua menit terhadap lensa dan kamera yang bergeming. Pergeseran ini semakin kentara sesuai panjang titik-api lensa yang sedang dipergunakan. Kira-kira pada panjang titik-api 50 mm, kita bisa membuka rana sampai 10 detik sebelum citra Bulan terlihat berekor. Pada panjang titik-api lensa 200 mm kesempatan merosot paling banter 2 – 4 detik. Pada panjang titik-api lensa 300 mm maka kesempatan paling banter 2 detik.



Sumber: http://undix.blogs.friendster.com/verba_volent_scripta_mane/2007/08/gerhana_bulan_2.html


Read More..

6/03/2008

Mengandalkan Kamera Kegemaran Profesional


BAGI penggemar fotografi, saat sudah memiliki kamera digital single lens reflex (SLR) serasa dunia sudah berada di tangan mereka. Memang terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Kamera DSLR dianggap sebagai barang mewah, baik dari segi harga maupun dari sisi penggunanya.

Namun, itu dulu. Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Seiring perkembangan teknologi, kamera DSLR bukan lagi barang mewah. Saat ini, sudah banyak kamera DSLR yang harganya berkisar di bawah Rp 10 juta. Selain itu, fitur pada kamera DSLR juga semakin memudahkan para penggunanya. Jadi, bukan cuma pehobi fotografi atau fotografer profesional yang menenteng kamera DSLR.

Mencuatnya pamor kamera DSLR, menurut Sandy Chandra, Manajer Pemasaran Olympus Indonesia terutama disebabkan karena harga kamera DSLR yang kian murah. Dampaknya tentu saja merembet ke berbagai faktor, termasuk dari segmen pengguna kamera DSLR sendiri. “Banyak penggemar fotografi yang beralih dari kamera prosumer ke kamera DSLR,” ujar Sandy.

Memang, jika dilihat turunnya harga kamera DSLR, khususnya yang bermain di segmen entry level, membuat harga kamera DSLR dengan kamera saku digital semi pro semakin tipis saja. Konsumen pun dihadapkan pilihan, harga beda tipis namun teknologi lebih canggih.

Meskipun pamornya sedang mencuat, Rusdy Latif, Direktur Alta Nikindo, distributor Nikon, justru melihat pasar kamera DSLR lebih sempit ketimbang kamera saku. “Kamera DSLR hanya diminati profesional fotografer, wartawan foto, foto studio, penggemar dan mahasiswa yang mempunyai jurusan yang terkait fotografi, sedangkan kamera saku penggunanya bisa semua,” ucap Rusdy.

Pasarnya hanya 25%

Pasar DSLR sendiri, menurut Sintra Wong, Asisten Manajer Pemasaran Divisi Canon untuk kamera digital dan SLR domestik PT Datascript, tahun 2007 ini mampu mencapai 25.000 unit. Konon, jumlah tersebut hanya mencapai 20% sampai 25% dari total penjualan seluruh kamera di Indonesia.

Dari total pasar tersebut, Sintra optimistis mampu meraup penjualan 15.000 unit, atau kurang lebih 60% pangsa pasar kamera DSLR. Olympus sendiri menargetkan pangsa pasar 20% tahun 2007. Selain mereka, pemain besar lainnya adalah Nikon, Sony, dan Pentax.

Tak bisa dipungkiri, meskipun pasarnya hanya 25%, vendor terbukti serius menggarap pasar kamera DSLR, khususnya pasar entry level. Lihat saja Canon yang mengeluarkan produk anyarnya EOS 40 D awal bulan ini seharga Rp 10,25 juta tanpa lensa. Selain EOS 40 D, Canon juga mengandalkan Canon EOS 400D yang dibanderol dengan harga Rp 8,5 juta per unit.

Olympus pun setali tiga uang, akhir semester pertama kemarin, Olympus langsung menggelar dua produk anyarnya, E-410 dan E-510. Olympus E-410 lebih ditujukan buat pengguna perempuan karena bodinya yang kecil dan mudah untuk dibawa, sedangkan E-510 untuk pengguna yang lebih serius. Dua produk tersebut dibanderol Rp 7,4 juta dan Rp 8,3 juta. Tak mau kalah Nikon juga menggebrak dengan D80. Bermain di kelas entry level, seri D80 merupakan kamera DSLR ekonomis Nikon pertama yang menggunakan resolusi 10 MP.

Meskipun belum seberapa besar, pasar kamera DSLR diyakini masih terus tumbuh. “Total pertumbuhan pasar DSLR tahun 2007 sekitar 25% sampai 30%,” kata Sandy menjelaskan.

Jadi, sudah siapkah Anda mengabadikan momen istimewa dengan DSLR?

dari : kontan-harian.com

Read More..

Memilih Lensa Kamera yang Tepat


Memilih Lensa Kamera yang Tepat
By Kaufik Anril H. (U/W Photography Instructor)

Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lensa kamera untuk underwater photography adalah FOCAL LENGTH. Secara gamblang, focal length adalah jarak titik focus terhadap sensor kamera yang menentukan faktor pembesaran sebuah lensa. Mata manusia memiliki faktor pembesaran yang sama dengan lensa 50mm, oleh sebab itu Lensa 50mm disebut juga dengan Lensa Normal. Jika kita menggunakan lensa 50mm maka tidak terjadi pembesaran sama sekali terhadap apa yang dilihat menggunakan kamera maupun dilihat secara langsung oleh mata. Lensa lebih kecil dari 50mm tentunya akan memberikan faktor pembesaran negatif atau dengan kata lain diperkecil oleh sebab itu lensa dibawah 50mm sering disebut lensa sudut lebar / wide angle. Demikian pula lensa dengan focal length diatas 50mm disebut juga lensa Tele untuk jarak jauh karena mengalami pembesaran.

Berikut ini adalah perbandingan visual berbagai focal length (equiv 35mm):


Perlu diperhatikan meski tersedia banyak lensa dengan berbagai focal length, pada kegiatan underwater photography, lensa yang efektif untuk dipergunakan adalah lensa Macro dan Lensa Wide angle sesuai dengan minat sang Photographer.

Dikarenakan medium air yang memiliki partikel terlarut lebih banyak ketimbang diudara, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam memotret didalam air adalah Mengambil Gambar sedekat mungkin dengan Objek. Dengan mengambil gambar sedekat mungkin maka ketajaman yang dihasilkan akan maksimal. Oleh karena itu pilihlah lensa-lensa yang memungkinkan untuk mengambil gambar sedekat mungkin.

Khusus untuk kamera Digital SLR system Nikon berikut ini adalah rekomendasi lensa yang dapat saya berikan:

1. Wide Angle: Nikon 12-24mm, atau Fish Eye 10,5mm
2. Macro: Nikon AF-D 60mm Micro dan AF-D 105mm Micro

Untuk kamera Non-SLR, rata-rata memiliki focal length 28mm dan 35mm namun tentunya dapat kita modifikasi dengan penambahan lensa add-on dari 3rd party manufacturer seperti inon, sea & sea, epogue, dll.


Read More..

6/02/2008

Memotret kembang api



Anda ingin membuat foto seperti di atas ?

Berikut langkah-langkahnya
1. Tentukan tempat yang anda anggap bagus
2. Pastikan tidak ada halangan di udara seperti asap
3. Setting di Time Priority, set di 4 detik
4. ISO 400
5. Pasang di tripod
6. Perhatikan baik-baik situsi, sesaat setelah kembang api menyala, tekan tombol sutter

Read More..